Cinta Daging Dalam Negeri – Balipost.

IMPOR daging untuk mengatasi kebutuhan pasar dalam negeri sedang disorot kalangan wakil rakyat. Kenyataannya, misalnya, impor daging sapi masih tinggi. Padahal, komitmen pemerintah mendongkrak produksi daging sapi lokal terus didengung-dengungkan di berbagai forum publik.

Praktik penguatan sistem dan manajemen ketahanan pangan dalam negeri sebenarnya sudah dilakukan pemerintah dan DPR. Regulasinya jelas tertuang dalam UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan. Prinsip kemandirian pangan amat ditekankan dalam undang-undang ini. Bahasa kemandiriannya tercermin dalam ketentuan yang menggariskan pengertian kata swasembada. Swasembada mengandung makna kemampuan negara menjamin terwujudnya kemandirian pangan yang dihasilkan dari produksi dalam negeri.

Jaminan terhadap upaya pemanfaatan maksimal potensi lokal juga ditekankan. Upaya maksimal tersebut ditujukan agar dampaknya positif terhadap program penyerapan tenaga kerja. Contoh, jika pasar daging sapi lokal dapat terbuka lebar otomatis dampaknya akan terasa positif di sejumlah lini. Awalnya dimulai dari manajemen peternakan sapi di lingkungan peternak lokal. Ini membuka lapangan kerja baru dalam proses pemeliharaan dan penggemukan sapi. Ini juga memerlukan tenaga kerja untuk pemerahan susu sapi. Selain itu, jika sistem biogas dijalankan otomatis perlu sumber daya baru untuk mendorong produksi biogas yang dihasilkan dari kotoran sapi.

Hal yang sama dapat dikerjakan untuk memberdayakan jenis ternak lokal lainnya. Ada sejumlah jenis ternak lokal yang memiliki prospek cerah untuk dikembangkan, bukan hanya untuk memenuhi pasar lokal, bahkan berprospek untuk memenuhi kebutuhan impor. Misalnya, babi, ayam, bahkan kambing.

Khusus jenis kambing sebenarnya Bali, misalnya, memiliki jenis kambing lokal yang unggul dan unik. Temuan peneliti BPTP Bali Ir. Suprio Guntoro mengungkapkan, kambing lokal asli Bali tersebut dikenal di Karangasem dengan sebutan kambing gembrong. Ini lantaran kambing lokal ini memiliki ciri jenggot yang panjang. Sayang Guntoro menemukan kambing gembrong di Karangasem hanya tersisa beberapa ekor.

Sejumlah jenis ternak lokal tersebut jelas memiliki kekhasan. Apalagi, jenis ternak tersebut telah memiliki semacam branding ternak khas lokal Bali. Dari sisi ini seharusnya pemasaran hasil ternak lokal tersebut tak perlu menemui kendala berarti.

Kenyataannya justru sebaliknya. Sebuah hasil penelitian yang pernah diungkapkan media massa, daging sapi lokal Bali, misalnya, dipandang belum memenuhi standar konsumsi wisatawan. Daging sapi Bali tak jarang dipandang terbilang lebih liat dibandingkan daging sapi impor.

Daging sapi impor disebut-sebut lebih mudah masuk pasar konsumen di industri pariwisata bukan tanpa alasan. Daging sapi impor konon terasa lebih lembut dibandingkan daging sapi lokal. Standar daging sapi seperti ini yang disebut-sebut cocok bagi kebutuhan pasar pariwisata.

Banyak aspek digarap dalam proses pemeliharaan sapi di luar negeri. Salah satu aspek yang diterapkan, upaya menyiasati agar daging sapi menjadi lunak saat dikonsumsi. Daging sapi bisa lunak akibat mengkonsumsi minuman beralkohol rendah selama masa pemeliharaan.

Dari sisi itu saja jelas potensi pengembangan budi daya ternak lokal amat besar. Dukungan regulasi sudah terang-benderang. UU tentang Pangan jelas memberikan proteksi terhadap upaya penguatan sistem kemandirian pangan, termasuk pengembangan produksi dan pemasaran daging ternak lokal.

Padahal, kampanye yang dilakukan pemerintah untuk mengangkat citra positif, membuka luas pasar produksi dalam negeri tak kurang gencar. Inti kampanye jelas mendorong seluruh komponen bangsa ini mencintai produksi dalam negeri, termasuk mencintai produksi daging dalam negeri.

Kampanye itu saja tidak cukup untuk mengangkat martabat daging lokal. Penerapan sistem dan manajemen strategis untuk mendongkar sistem dan manajemen ternak lokal harus juga terwujud.

sumber : http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailopiniindex&kid=3&id=7175