Dari Kotoran Sapi Menjadi Pakan Unggas

Senin, 10 Februari 2014 09:41
Denpasar – Bali dikenal sebagai pemilik utama plasma nutfah sapi bali yang untuk saat ini bisa dikatakan yang bergaris keturunan murni. Terlebih lagi, Bali merupakan salah satu provinsi yang surplus sapi.

Namun, kelemahan Bali adalah pada angka produksi unggas. Suprio Guntoro, Peneliti Senior di bidang peternakan BPTP Bali mengatakan “Itik di bali perhari diperlukan 7 ton dan itu habis, namun sayangnya dari Bali sendiri hanya support  sekitar 1 ton, begitu juga dengan ayam.”

Sebelum merebaknya virus flu burung, setiap hari Bali dibanjiri unggas dalam bentuk hidup namun sekarang unggas, baik itik maupun ayam masuk sudah dalam bentuk potong.

Guntoro menambahkan “Unggas ini “ugal-ugalan”, peternak di Mengwi (Kab Badung) menetaskan itik, setelah tetas dibawa ke tegal, lalu itik bertelur disana setelah tidak bisa bertelur dibawa lagi ke bali, untuk di potong di warung-warung tenda. Setelah dipotong, bulu dikirim ke jawa lagi. Setelah jadi jok mobil dibawa ke bali lagi. Jadi sudah menyeberang dua kali!”

Kebutuhan unggas setiap tahun meningkat di Bali, akan tetapi untuk memenuhi kuota Bali tidak bisa produksi secara mandiri karena harga pakan relatif mahal. Sedangkan Jawa Timur lebih unggul produksi karena banyaknya industri pengolahan disana, seperti minyak kelapa, CPO, kedelai sehingga hasil sampingnya dapat digunakan sebagai pakan.

Latar belakang tersebut diatas yang menjadikan BPTP Bali melakukan research dan kajian bahan pakan unggas alternatif yang murah, continue, produksi besar serta aplikasinya mudah. Tim penelitian tersebutlah yang kini sedang dikomandoi oleh Suprio Guntoro.

Menurut Dinas Peternakan, Bali mempunyai 670 ribu ekor sapi. Tetapi menurut BPS angka tersebut turun menjadi 450 ribu. Sehingga diperoleh angka untuk produksi kotoran sapi sebanyak 1.274.000 kg / hari.

“Nah ini potensi besar, melalui proses pengolahan, kotoran sapi ini nilai gizinya dapat ditingkatkan dan digunakan sebagai alternatif pakan unggas. Sehingga bisa mendorong pengembangan unggas dan meningkatkan nilai tambah usaha tani.” Ujar Guntoro

Harapan dari penelitian ini nantinya ialah peternak unggas memproleh ransum yang lebih murah dengan bahan lokal yang mudah diperoleh.

Perbaikan nilai gizi dilakukan dengan proses perbaikan inokulan, yang diaplikasikan dengan priobiotik pada ransum. Penelitian akan menggunakan selulotik dan rizobium. Selulotiknya didapat dari rayap.

Rayap punya enzim selulotik yang lebih luar biasa daripada mahluk lain. Rayap ini ada 1200 genus saat ini. Rayap yang diambil adalah rayap kayu, yang membuat sarang dibawah tanah. Rayap kayu yg merubah kayu menjadi karbohirat sederhana. Dalam penceranaan rayap terdapat mikroba yang bisa mengolah selulotik. (sig)

Sumber: http://bali.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=415:dari-kotoran-sapi-menjadi-pakan-unggas&catid=51:info-aktual&Itemid=81