Guntoro, Peneliti BPTP Bali Menjadi Figur Inspiratif Kompas

Terkenalnya Bali sebagai obyek tujuan wisata dunia, menyebabkan sebagian alamnya dikorbankan termasuk lahan pertanian yang subur, disesaki dengan hotel-hotel mewah dan vila. Disamping itu para kaum mudapun banyak tenggelam dalam bisnis pariwisata yang juga turut mendukung menenggelamkan pertanian. Kaitannya dengan itulah Ir. Suprio Guntoro, seorang peneliti BPTP Bali, memperkenalkan Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Teknologi Pertanian (Prima Tani) suatu gerakan pengembangan pertanian dengan sentuhan teknologi.

Harian Kompas di ulang tahunnya yang ke-45, menurunkan rubrik ”45 Figur Inspiratif” yang dimuat dalam Harian Kompas (30/6, hal.16) dengan judul ”Kiat Guntoro Mandirikan Petani”. Berawal ketika harga kopi jatuh, tanaman kopi sempat akan diganti tanaman semusim. Jelas itu sangat membahayakan dari sisi lingkungan karena Kecamatan Busung Biu ini berlokasi di dataran tinggi sehingga menjadi rawan longsor. Guntoro memperkenalkan gerakan pertanian integratif kepada petani yang memanfaatkan limbah kopi untuk pakan peternakan sapi/kambing yang banyak di miliki di sekitar kebun kopi.

Limbah kopi belum banyak diketahui oleh masyarakat sebagai pakan ternak. Guntoro memperkenalkan mesin pengupas kulit kopi dan kacang, membantu proses pembuatan pupuk cair dari kencing sapi dan kambing. Bukan hanya itu, cairan probiotik yang dicampurkan pada makanan ternak sapi dan kambing, menghasilkan bobot tubuh hewan naik secara optimal. Para petani di Kecamatan Busung Biu ditetapkan sebagai daerah binaan BPTP Bali, dan dinyatakan berhasil. Keberhasilan ini ditiru hingga kelompok tani dari daerah lain baik di dalam maupun di luar daerah Bali. BPTP Bali sekaligus memfasilitasi kelompok tani daerah lain  yang ingin belajar sistem pertanian integrasi ini.

Akibat keberhasilan gerakan pertanian integrasi ini menjadikan ribuan hektar kebun kopi tumbuh subur dengan hasil melimpah. Bersamaan dengan itu hasil ternak berbagai jenis kambing dan turunannya  seperi susu, keripik, dan wine salak bali, menggerakkan sarjana atau warga setempat yang tadinya mengadu nasib ke Denpasar sebagai tukang kebun hotel mewah, mereka pulang kampung ikut mengembangkan pertanian di desa.