Meningkatkan Mutu Kompos dengan RB (Rummino Bacillus)

Meningkatkan Mutu Kompos dengan RB (Rummino Bacillus)

Saat kini penggunaan pupuk organik (kompos) makin banyak dilakukan petani sejalan dengan  makin tingginya permintaan produk-produk organik  yang dianggap lebih sehat serta makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian lingkungan.  Disamping itu, penggunaan pupuk organik atau kompos meskipun tidak secara total  diharapkan juga dapat mengurangi biaya, mengingat  harga pupuk an-organik kian meningkat.

Sesungguhnya sejak dahulu kala para petani yang memiliki ternak telah biasa membuat kompos untuk keperluan tanamannya. Namun teknik yang diterapkan  umumnya masih tradisional, sehingga mutu kompos yang dihasilkan masih relatif rendah.

Kini beberapa fermentor atau mikroba inokulan telah tersedia di pasaran yang digunakan untuk memperbaiki proses fermentasi, sehingga dihasilkan kompos yang lebih bermutu. Fermentor-fermentor tersebut sebagian berupa bakteri dan ada pula jenis jamur, diantaranya yang berupa bakteri adalah ”Rummino Bacillus” atau sering disebut RB.

Rummino Bacillus” atau RB merupakan gabungan dua jenis mikroba, yang bersifat simbiose mutualistik, yakni jenis ”Rumminococcus plavifasius” dan ”Bacillus turingiensis”. Inokulan RB telah diuji coba oleh BPTP Bali dan saat kini telah digunakan oleh para petani di beberapa kabupaten di Bali, dan hasil komposnya telah digunakan untuk pupuk tanaman industri  maupun tanaman pangan.

 

KEUNGGULAN

Ada beberapa keunggulan yang dimiliki oleh fermentor RB sebagai inokulan dalam pembuatan kompos. Pertama, dosis penggunaannya hemat. Inokulan RB yang berbentuk cair ini, dalam aplikasinya dapat diencerkan hingga 200 x lipat. Jadi untuk satu liter bibit RB, bisa diencerkan menjadi 200 liter larutan RB, dengan campuran air dan gula pasir. Larutan ini dapat dipergunakan untuk memfermentasi 2.000 kg atau 2 ton bahan kompos.

Keunggulan kedua adalah penggunaannya yang praktis. Dimana dalam membuat kompos selama 2 minggu pemeraman, tidak perlu diaduk-aduk. Dalam pembuatan kompos pada umumnya, dilakukan pengadukan pada hari 3-4 dan diulangi setiap 4 hari. Hal ini dimaksudkan agar mikroba inokulan tidak sampai mati kepanasan, karena pada hari ke-3 fermentasi suhunya bisa mencapai 60 derajat celcius.

Sementara Rumminococcus dan Bacillus turingiensis masih bisa bertahan hidup pada suhu tersebut, bahkan hingga suhu 70 derajat celcius, kedua bakteri tersebut masih bisa bertahan hidup. Dengan demikian, penggunaan inokulan RB tersebut agar lebih menghemat tenaga kerja.

 

TEKNIK PEMBUATAN KOMPOS

Penggunaan  mikroba ini dalam fermentasi amat mudah. Sebelum digunakan, diencerkan 200 kali dengan air steril (jangan air PAM-karena mengandung kaporit). Kedalam air tersebut dimasukan gula pasir 1/200 kali berat air, dan dilarutkan. Lalu masukkan RB sebanyak 1/200 kali volume air.(misalnya untuk 10 liter air diperlukan 50 cc atau 10 sendok makan RB). Selanjutnya diaduk dan diamkan selama 30 menit. Setelah itu bahan siap digunakan untuk memfermentasi kotoran.

Kotoran ternak sapi, kambing, atau ternak lain yang difermentasi dalam 2 minggu sudah siap digunakan untuk pupuk. Fermentasi menggunakan strater ”Rummino Bacillus” dapat meningkatkan kandungan hara kompos, terutama  kandungan nitrogen dan kalium serta C-organik. Dimana pada kandungan N meningkat dari rata-rata 0,81 % pada kotoran sapi yang difermentasi secara konvensional menjadi 1,34 %,  sedangkan kandungan Kalium meningkat dari rata-rata 418 ppm menjadi 823 ppm dan kandungan C-organik meningkat dari 2,61% menjadi 3,64%.

 

TEKNIK APLIKASI

Pada tanaman kopi yang berumur 4 – 8 tahun diperlukan 10 kg kompos per pohon per tahun yang aplikasinya diberikan 2 kali pemupukan yaitu pada saat selesai panen dan pada akhir musim hujan dengan dosis masing-masing 5 kg / pohon.

Hasil pengkajian di desa Bongancina dan Pucak Sari menunjukkan bahwa dengan dosis yang sama penggunaan kompos hasil fermentasi RB dapat meningkatkan produksi 40 – 45 % dibanding yang menggunakan kompos konvensional.

Pada tanaman padi dan sayuran, penggunaan pupuk organik hasil fermentasi ini sebagai pengganti pupuk an-organik perlu dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal,penggunaan pupuk an-organik (urea, SP36- KCl) dipertahankan 50 % dari dosis anjuran dan pemberian kompos RB 2 ton / hektar / musim tanam. Ternyata dengan teknik pemupukan ini produksi padi meningkat rata-rata 35 – 40 % dibanding penggunaan pupuk kimia secara penuh (100%). Pada cabe  kombinasi penggunaan pupuk kimia 50% dari dosis anjuran dan pupuk  RB 1 ton / hektar / musim tanam dapat meningkatkan  frekuensi panen dan produksi meningkat dari 4,14 ton / ha menjadi 5,06 ton / ha.

Untuk tanaman semusim, penggunaan pupuk organik memang dianjurkan agar tidak secara langsung mengganti pupuk kimia secara total, tetapi dilakukan secara bertahap, sehingga dalam beberapa tahun penggunaan pupuk kimia dapat dihilangkan sama sekali, dan penggunaan pupuk organik bisa diberikan 100 %.

 

Untuk pemesanan:

Telp.: (+62361) 723013

Hp.: +628123812319

Email: suprioguntoro@ymail.com/guntoro_bio@yahoo.com