Menyulap Kotoran Sapi Jadi Pakan Unggas

Birds-feeding-2

 

Permintaan daging sapi yang terus meningkat, menjadi alasan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali mencari terobosan swasembada daging sapi. Karena dengan permintaan daging yang tinggi, para petani peternak justru lebih berminat melakukan penggemukan (fattening) ketimbang pembibitan (breeding) atau pembiakan.

Keputusan para petani peternak itu masuk akal. Alasannya tentu karena masalah ekonomis. Karena dengan melakukan penggemukan, dalam waktu empat bulan mereka sudah mendapatkan uang dengan keuntungan lebih besar. Sedangkan dengan pembiakan, diperlukan waktu produksi selama tiga tahun untuk bisa menghasilkan uang.

Peneliti BPTP Bali, Suprio Guntoro, mengatakan, sebagai daerah pemasok kebutuhan sapi nasional, keputusan petani yang hanya ingin untung cepat membuat Bali kena imbasnya. Kecenderungan petani peternak memilih melakukan penggemukan, membuat populasi sapi di Bali juga semakin berkurang. Bila hal ini berlangsung dalam waktu lama, dikhawatirkan semakin menurunkan minat petani melakukan pembibitan.

“Kalau terus-menerus disembelih, tanpa ada pembiakan, maka populasi sapi akan berkurang, swasembada pasti akan terganggu,” kata Guntoro, belum lama ini.

Tingginya permintaan daging sapi dari tahun ke tahun yang terus meningkat, namun belum dapat diimbangi dengan laju peningkatan produksi, memaksa pemerintah mengimpor daging sapi. Sedangkan, daerah Bali sebagai daerah surplus daging sapi dengan populasi sekitar 470 ribu  ekor setiap tahun, rata-rata menyuplai kebutuhan DKI dan Jawa Barat sekitar 50 ribu hingga 60 ribu ekor sapi.

Kendati sebagai daerah lumbung sapi bali, daerah pariwisata itu juga terkendala oleh tingginya angka pemotongan sapi betina produktif. Berdasarkan data, pemotongan sapi betina di rumah potong hewan (RPH) mencapai 40-50 persen. Guntoro mengatakan, hal itu sekaligus menunjukkan bahwa minat para petani membudidayakan sapi bali di bidang pembibitan sangat kecil.

Sejak 2012, BPTP Bali mulai mencari jalan keluar dan memberi dorongan kepada para petani peternak Bali agar lebih bersemangat melakukan pembiakan. Namun, jika ingin memberikan nilai tambah pada sapi setelah diambil dagingnya, sepertinya sudah tak ada cara. Seperti kulit atau bagian lain dari sapi, sudah tidak memungkinkan. Karena, bagian-bagian itu semuanya sudah memiliki nilai ekonomis.

Guntoro akhirnya menemukan celah. Dia melihat kotoran sapi masih bisa diutak-atik. Selama ini, Guntoro mengatakan, kotoran sapi hanya dijual untuk pupuk kompos dan harganya relatif murah, yakni Rp 600 per kilogram.

Jika seekor sapi mengeluarkan kotoran seberat lima kilogram sehari, ketika dikeringkan hanya jadi satu kilogram. Berarti, petani hanya menerima nilai tambah Rp 600 sehari untuk setiap ekor sapi dengan menjadikan kotoran sapi sebagai pupuk.

Maka muncullah ide menjadikannya pakan ternak. Berbagai hasil penelitian menunjukkan, salah satu kelemahan limbah (feses) sapi potong sebagai bahan pakan karena kandungan proteinnya relatif rendah, yakni hanya empat hingga tujuh persen. Seratnya pun relatif kasar.

Tetapi untuk meningkatkan kandungan proteinnya, bisa dilakukan melalui fermentasi. Untuk fermentasi, Guntoro menggunakan inokulan khusus yang mengandung mikroba. Perlakuan ini mampu mendegradasi serat kasar pada limbah sapi.

Dalam pengolahan limbah, kotoran sapi segar dikeringkan sekitar sehari untuk mengurangi kadar airnya. Setelah itu, difermentasi dengan inokulan khusus yang dapat menghasilkan enzim selulotik dan proteolitik selama lima hari. Setelah difermentasi, limbah dijemur hingga kering. Selanjutnya digiling hingga berbentuk tepung.

Dengan melakukan fermentasi dan mencampurnya dengan mikroba khusus, kotoran sapi bisa diubah menjadi salah satu ransum pakan unggas dengan kualitas bermutu. Pakan ini, harga jualnya lumayan. Bisa empat kali lebih mahal bila dibandingkan dengan harga kotoran sapi yang dijadikan pupuk kompos.

“Kalau di pasaran, harga ransum pakan unggas dari dedak bisa sampai Rp 3.000 per kilogram. Dengan fermentasi kotoran sapi ini, mutunya lebih bagus, dan kalau dijual di bawah harga dedak, pasti laku keras,” kata Guntoro.

Upaya lembaga yang berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian Kementerian Pertanian mengolah kotoran sapi jadi pakan unggas ini itu tidak sia-sia. Contohnya sudah diujikan pada peternakan itik. Penggunaan limbah sapi olahan dalam ransum itik potong pada level 15 persen terbukti tidak menyebabkan turunnya pertumbuhan.

Sebaliknya, penggunaan hingga 20 persen dalam ransum itik potong, secara ekonomis masih lebih menguntungkan dibanding penggunaan ransum konvensional. Hasil penelitian pada 2013, yang dilakukan pada ayam buras petelur, penggunaan limbah sapi olahan hingga 15 persen tidak berpengaruh nyata terhadap produksi telur. Namun, secara ekonomis lebih menguntungkan, dan keuntungan tertinggi diperoleh pada penggunaan kotoran sapi olahan pada level 10 persen.

Sedangkan, pada 2014, penelitian pada ayam buras dilanjutkan dengan perlakuan kombinasi penggunaan kotoran sapi olahan dalam ransum dengan pemberian probiotik (Bio-L) untuk ayam petelur. Dengan kombinasi tersebut, penggunaan kotoran sapi hingga level 20 persen dapat meningkatkan produksi telur tiga hingga empat persen. Penghematan pakan pun sekitar lima hingga tujuh gram per ekor per hari. Di samping itu, harga ransum menjadi lebih murah sekitar 12 hingga 15 pesen dibandingkan dengan ransum konvensional.

Dengan konsumsi pakan yang lebih hemat, harga ransum yang lebih murah, dan produktivitas telur meningkat, secara ekonomis setiap pemeliharaan 100 ekor ayam buras petelur memberikan tambahan keuntungan setiap bulan sekitar Rp 1,2 juta hingga Rp 1,3 juta. Atau mencapai lebih dari Rp 10 juta untuk pemeliharaan 1.000 ekor.

Sejak penelitian pertama kali dilakukan, Guntoro yang menjadi ketua tim peneliti dalam program itu mengatakan, baru dua desa yang mengadopsi teknologi itu. Kedua desa itu, yakni Desa Ketewel, Kabupaten Gianyar, dan Desa Jehem, Kabupaten Bangli. Ia berharap, hasil penelitian ini bisa lebih meluas lagi ke masyarakat. “Kalau ini bisa lebih dimasyarakatkan, tentunya akan semakin banyak yang memilih program pembibitan karena untungnya lebih besar,” kata Guntoro.

Guntoro mengemukakan hitung-hitungannya, jika seekor sapi menghasilkan lima kilogram kotoran sapi basah, dan jika dikeringkan jadi tepung kemudian difermentasikan, beratnya menjadi satu kilogram. Tapi, harganya naik, bisa jadi Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per kilogram.

Kalau setiap peternak memiliki 10 ekor sapi, dipastikan dia bisa memperoleh nilai tambah Rp 30 ribu per hari dan sebulannya mencapai Rp 900 ribu dari memanfaatkan limbah kotoran sapinya. Keuntungan itu diharapkannya bisa mendorong semangat para petani peternak untuk melakukan pembibitan.

“Keuntungannya kan lumayan, setahunnya ada nilai tambah Rp 10 jutaan. Itu belum termasuk dengan harga jual sapinya sendiri,” kata Guntoro.

N ed: andi nur aminah

sumber: http://www.republika.co.id/berita/koran/trentek/15/02/12/njnicr15-menyulap-kotoran-sapi-jadi-pakan-unggas