Petani yang Tak Takluk Pasar Bebas

Rabu, 14 Januari 2004

[1] DESA Bongancina berjarak sekitar 50 kilometer arah utara Kota Denpasar, Bali. Desa yang termasuk Kabupaten Buleleng itu terletak di pegunungan yang tidak banyak didatangi orang karena bukan daerah wisata yang terkenal. Saat berjaya, daerah itu dikenal sebagai penghasil kopi robusta.

kopi

Biji dan bunga kopi (© Hindrawan 2006)

[2] Kalau hanya mengandalkan kopi, penderitaan mereka pasti tidak akan berhenti. Apalagi perilaku pedagang internasional sulit ditebak. Mereka bisa dilibas oleh pemain-pemain raksasa di perdagangan kopi.

[3] Apalagi anjloknya harga kopi itu belum akan berhenti, setidaknya hingga tahun ini. Meski menurut Organisasi Kopi Internasional (ICO) produksi kopi dunia akan turun 16 persen, lemahnya pasokan ini diperkirakan tidak akan mendongkrak harga kopi karena konsumsi masih sangat rendah.

[4] Akan tetapi, pukulan yang sudah dirasakan lebih dari tiga tahun itu tidak menyebabkan petani kopi di Desa Bongancina menyerah. Mereka melakukan berbagai upaya. Dengan bantuan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Bali, mereka mengembangkan ternak kambing di sela tanaman kopi dan kini ternak kambing malah menjadi penghasilan utama. Dari sinilah mereka bisa menghidupi keluarga dan juga tetap melestarikan lingkungan.

[5] Menurut Made Suparta, salah seorang petani kopi setempat, dengan adanya peternakan kambing, ia bisa menjalankan ekonomi rumah tangganya. Ia yang memiliki 12 kambing bisa menjual ternak piaraannya itu dengan harga Rp 500.000 per ekor. Selain itu, kambing tersebut juga menghasilkan susu yang dijual dengan harga Rp 10.000 per liter.

[6] “Saya bisa menghidupi keluarga saya, bisa menyekolahkan anak-anak saya,” kata Suparta. Bahkan, ia sudah mengembangkan susu kambing menjadi es krim yang dijual di desa itu.

[7] Dengan bantuan peneliti dari BPTP, petani Bongancina juga memanfaatkan limbah kopi menjadi pakan ternak. Limbah yang berupa kulit kopi itu, setelah melalui fermentasi dan dikeringkan, menjadi pakan kambing.

Peternakan Kambing di Bongancina (© Stephen Tschudi 2006)

[8] Menurut peneliti dari BPTP Bali, Suprio Guntoro, dengan cara itu, pengeluaran petani menjadi berkurang. Bahkan, pertumbuhan berat badan kambing pun naik, dari 65 gram per hari menjadi 98 gram per hari. “Dengan percepatan kenaikan berat badan itu, petani yang biasa menjual kambing saat umur satu tahun sekarang bisa diperpendek menjadi kurang dari delapan bulan. Ini sangat menguntungkan petani dalam menopang pendapatan keluarga,” katanya.

[9] Ia menyebutkan, pakan limbah kopi itu mulai dikembangkan sejak tahun 2002. Saat ini sekitar 300 petani di tempat itu mengolah sendiri limbah tersebut untuk pakan ternak. Dengan kepemilikan lahan sekitar satu hektar untuk tiap petani, dapat dihasilkan sekitar tiga ton limbah kopi. Setelah diolah menjadi pakan, limbah ini bisa dimanfaatkan untuk lebih dari 20 kambing dalam setahun, dengan konsumsi pakan sebanyak 200 gram untuk tiap kambing per hari.

[10] Guntoro mengatakan, keberadaan peternakan kambing hingga menjadi sumber penghasilan utama juga berhasil mencegah petani setempat membabati kebun kopi dengan mengganti tanaman lain. Pemerintah setempat khawatir, apabila petani setempat membabati tanaman kopi, sudah pasti lingkungan menjadi hancur sehingga sumber air untuk Denpasar dan sekitarnya berkurang. Bahkan, bila dibiarkan, akan mengakibatkan kota di bawahnya dilanda banjir.

[11] “Bayangkan, kalau mereka frustrasi akibat harga kopi anjlok lalu tanaman ditebangi hingga mereka beralih ke tanaman lain, sangat mungkin pegunungan ini gundul hingga mengakibatkan banjir dan juga kekurangan air pada musim kemarau,” kata Guntoro.

[12] Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan Departemen Pertanian Egi Djanuiswati dalam sebuah kesempatan di desa itu mengatakan, pertanian terintegrasi itu telah memberi pendapatan petani dari kopi dan hasil ternak kambing.

Seorang petani di Bongancina (© Stephen Tschudi 2006)

[13] Tidak berhenti sampai di situ, mereka menyadari beternak kambing dan memelihara tanaman kopi belumlah tujuan akhir mereka. Para petani yang dibantu para peneliti itu tengah memikirkan industri kecil harus disiapkan agar pendapatan mereka bisa bertambah.

[14] Wisata agro juga menjadi alternatif. Dengan ciri Bali sebagai daerah tujuan wisata, wisata agro bisa ikut ditawarkan dalam paket wisata. Memetik kopi, dan minum kopi di tengah kebun dapat dikemas dalam paket wisata bisa menjadi tambahan pendapatan bagi petani setempat.

[15] Gayung bersambut, rencana pembukaan wisata agro ini mendapat sambutan dari Departemen Pertanian. Departemen Pertanian akan mengucurkan dana untuk membangun sejumlah fasilitas, seperti gardu pandang dan kafe, di lokasi itu sehingga bisa menjadi lokasi wisata yang layak.

[16] Petani Bongancina telah menjadi contoh bahwa petani tak selamanya orang yang selalu mengalah dengan keadaan. Sebuah contoh bagi petani lainnya agar tidak menyerah. (A MARYOTO)

Sumber: Kompas Cyber Media

http://ipll.manoa.hawaii.edu/ind/306/modules/6_petani/2.htm