Setiap Tahun, 5 Ribu Petani Bali Tinggalkan Pertanian

Balinese people working at the famous rice terrace of Jatiluhwih, Bali, Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR – Karena dianggap tidak punya prospek, ribuan petani Bali meninggalkan kegiatan pertanian setiap tahunnya. Peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali, Ir Suprio Guntoro mengemukakan, sekitar 70 persen petani Bali kini berusia 40 tahun ke atas dan hanya 30 persen berusia muda.

“Ini masalah serius di dunia pertanian di Bali, karena dalam setahun 5 ribu orang berhenti jadi petani,” kata Guntoro kepada Republika, Ahad (21/12) petang Wita.

Masalah SDM kata Guntoro menjadi masalah paling serius di dunia pertanian, juga di daerah lainnya Indonesia. Dari pengamatannya sebut Guntoro, secara nasional sekitar 500 ribu petani yang beralih profesi setahun. Mereka pada umumnya menilai bahwa pertanian tidak punya gengsi, pekerjaan yang blepotan dengan lumpur, sehingga dianggap tidak menarik lagi dan tidak punya prospek.

Selain itu jelas Guntoro, masyarakat menilai pertanian berisiko besar, termasuk berisiko kkeringan saat terjadi kemarau panjang, begitu juga berisiko banjir di saat musim penghujan. Pertanian juga dianggap berisiko bila harga anjlok, srangan hama dan penyakit. “Jadi petani selama ini dianggap serba tertinggal dan pekerjaan kotor,” katanya.

Karena itu Guntoro memberi masukan, jika pemerintah ingin memajukan pertanian di Indonesia, haruslah membangun SDM pertaniannya terlebih dahulu. Setelah itu barulah membangun sarana dan prasarana lainnya, termasuk membangun sarana irigasi dan memperluas lahan pertanian.

Mengenai kondisi irigasi pertanian, dikatakan Guntoro sekitar 70 persen dalam keadaan rusak. Khusus di Bali sebutnya, dari 400 sungai yang ada, setiap musim kemarau lebih dari 50 pesen tidak memiliki sumber air.

Jadi, kata Guntoro, kalau dilihat sawah-sawah di Jembrana dan di Tabanan, setahun hanya ditanami satu atau dua kali, padahal dulu sampai tiga kali. Bahkan ada lahan sawah yang ditanami hanya sekali dalam setahun.

“Karena itu bila Prsiden Jokowi memprioritaskan pembangun irigasi pertanian, itu sangat tepat. Tapi tentunya setelah pembangun SDM pertanian,” kata Guntoro.

Masalah ketiga yang dihadapi oleh dunia pertanian, khususnya di Bali adalah persoalan lahan pertanian yang semakin menyempit. Keempat, ketergantungan petani pada sarana produksi pertanian dari luar.

Misalnya, kata Guntoro, benih didatangkan dari luar atau dari perusahaan benih, begitu juga dengan pupuk, pakan, maupun obat-onbatan seperti pestisida. Karenanya, ke depan kata Guntoro, pembangunan pertanian sebaiknya sekaligus dapat memecahkan empat persoalan yang ada secara secara sinergis.

Dunia pertanian, kata Guntoro, harus dibuat menjadi semenarik mungkin dan punya prospek, agar petani merasa betah bekerja dan bertahan di sektor pertanian.

Menurut Guntoro, Balitbang Pertanian, sedang memunculkan konsep untuk menjawab empat masalah yang dihadapi dunia pertanian, yang disebut dengan pertanian bio industi. Konsep pertanian ini menekankan pada budaya industri pendesaan dengan proses biologis.

“Konsep ini bisa menyiapkan kebutuhan pertanian di hulu, seperti penyiapan pakan, pupuk dan obat-obatan. Selain itu dengan konsep bio industri, pertanian akan lebih hemat air, lebih hemat lahan dan dapat memandirikan petani dalam menyediakan sarana industri,” katanya.

Di Bali kata Guntoro, penerapan konsep bio industri akan dimulai pada 2015 dan akan diterapkan di dua desa, yakni Desa Bukti Kecamatan Kubu Tambahan, Buleleng.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/14/12/21/ngxrjr-setiap-tahun-5-ribu-petani-bali-tinggalkan-pertanian